20 Sifat Wajib Bagi Alloh Dan Penjelasannya

Setiap muslim wajib mengetahui dan mengimani sifat sifat yang wajib,mustahil,dan mumkin bagi Alloh.ini merupakan satu bentuk pengamalan Iman kepada Alloh dan Salah satunya yaitu mengetahui dan mengimani sifat sifat Alloh.Berikut Sifat sifat wajib bagi Alloh dan penjelasannya.


http://abd-holikulanwarislamic.blogspot.com/2014/08/20-sifat-wajib-dan-mustahil-bagi-alloh.html

20 Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Alloh Dan Penjelasannya

1. Wujud (Ada) Mustahil ‘Adam (Tidak ada)
Adanya Allah Bukan karena ada yang mengadakan atau menciptakan,Tapi Allah ada dengan Dat- Nya sendiri.

Dalil ‘Aqli : Karena ada ciptaan-Nya,adanya alam semesta dan isinya cukup menjadi alasan akan Adanya Alloh. KArena tidak mungkin ada ciptaan kalau tidak ada yang menciptakannnya.
Dalil Naqli : Surat Ar-Ro’du ayat 16:

{قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ … قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (16)} [الرعد: 16]

16. Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. …..” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.

2. Qidam (Terdahulu/Tak berawal) Mustahil Hudust (Baru/Ada awalnya)
Dalil ‘Aqli : Qidam hakikatnya adalah menafikan bermulanya wujud Allah Swt.
Seandainya Allah tidak qodim, mesti Allah hadits, sebab tidak ada penengah antara qodim dan hadits. Apabila Allah hadits maka mesti membutuhkan muhdits (yang membuat) mislanya A, dan muhdits A mesti membutuhkan kepada Muhdits yang lain, misalnya B. Kemudian muhdits B mesti membutuhkan muhdits yang lain juga, misalnya C. Begitulah seterusnya.Apabila tiada ujungnya, maka dikatakan tasalsul (peristiwa berantau), dan apabila yang ujung membutuhkan kepada Allah maka dikatan daur (peristiwa berputar). Masing-masing dari tasalsul dan daur adalah mustahil menurut akal. Maka setiap yang mengakibatkan tasalsul dan daur, yaitu hudutsnya Allah adalah mustahil, maka Allah wajib bersifat Qidam
Dalil Naqli    :   Surat Al-Hadid  ayat 3:

{هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ} [الحديد: 3]
    
Dialah yang Awal dan yang akhir.

3. Baqo (Kekal/Tiada akhirnya) lawannya Fana (Rusak/Musnah)
Dalil ‘Aqli :Seandainya Allah tidak wajib Baqo, yakni Wenang Allah Tiada, maka tidak akan disifati Qidam. Sedangkan Qidam tidak bisa dihilangkan dari Allah berdasarkan dalil yang telah lewat dalam sifat Qidam.

 Dalil Naqli :  Surat Ar-Rahman  ayat 27:
{ن: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27) } [الرحم28]
 Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

4. Mukholafatu Lilhawadist (Berbeda dengan makhluknya) Mustahil Mumatsalatu Lilhawadist (Menyerupai makhluknya)

 Dalil ‘Aqli : Apabila diperkirakan Allah menyamai sekalian makhluknya, niscaya Allah adalah baru (Hadits), sedangkan Allah baru adalah mustahil

 Dalil Naqli :   Surat Asy-Syuro ayat 11:

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } [الشورى: 11]
tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,
5. Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan Dzatnya sendiri) lawannyaIhtiyaj (Membutuhkan)
Dalil ‘Aqli :Seadainya Allah membutuhkan dzat, niscaya Allah adalah sifat, sebab hanya sifatlah yang selalu membutuhkan dzat, sedangkan dzat selamanya tidak membutuhkan dzat lain untuk berdirinya.
Dan apabila Allah “Sifat” adalah mustahil, sebab apabila Allah “sifat”, maka Allah tidak akan disifati dengan sifat Ma’ani dan Ma’nawiyah, sedangkan sifat tersebut adalah termasuk sifat-sifat yang wajib bagi Allah berdasarkan dalil-dalil tertentu. Berarti apabila Allah tidak disifati dengan sifat Ma’ani dan Ma’nawiyah adalah salah (Bathil), dan batal pula sesuatu yang mengakibatkannya, yaitu butuhnya Allah kepada dzat. Apabila batal butuhnya Allah kepada dzat maka tetap Maha kaya (istighna)nya Allah dari dzat.
Seandainya Allah membutuhkan sang pncipta, niscaya Allah baru (Hadts), sebab yang membutuhkan pencipta hanyalah yang baru sedangkan dzat qodim tidak membutuhkannya. Dan mustahil Allah Hadits, karena segala sesuatu yang hadits harus membutuhkan sang pencipta (mujid) yang kelanjutannya akan mengakibatkan daur atau tasalul
Dalil Naqli : Surat Al-Ankabut  ayat 6:

إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ  العنكبوت: 6
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

6. Wahdaniyyat (Esa/Tunggal) mustahil Ta’addud (Lebih dari satu)

 Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Ta’addud (tidak tunggal) maka tidak akan ada ciptaanNya, karena apabila Allah ada dua tentu mereka akan berbagi pendapat, dan itu mustahil. Maka  tidak mungkin Allah Ta’addud.

    Dalil Naqli : Surat Al Ikhlas

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
1.  Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2.  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4.  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

7. Qudrat (Berkuasa atas segala sesuatu) Mustahil ‘Ajzu (Lemah/Tidak bisa berbuat apa – apa)

 Dalil ‘Aqli : Dalilnya adalah adanya alam semesta. Proses penyusunan dalilnya, jika Allah tidak berkemampuan niscaya Allah lemah(‘Ajzun), dan apabila Allah lemah maka tidak akan mampu menciptakan makhluk barang sedikitpun
Dalil Naqli : Surat Al Baqoroh  ayat 20:

إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [البقرة: 20]
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

8.Irodat  (Berkehendak) Mustahil Karohah (Terpaksa)
Dalil ‘Aqli :  Dalilnya adalah adanya alam semesta. Proses penyusunan dalil, seandainya allah tidak bersifat berkehendak niscaya bersifat terpaksa (karohah), dan allah bersifat terpaksa adalah mustahil karena tidak akan disifati qudrot, akan tetapi tidak disifatinya Allah dengan sifat qudrot adalah mustahil, sebab akanberakibat lemahnya Alla, sedangkan lemahnya Allah adalah mustahi, karena tidak akan mampu membuat makhluk barang sedikitpun.
Dalil Naqli : Surat Hud  ayat 107:
 إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ  هود: 107
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.
9. 'Ilmu (Maha Mengetahui) mustahil Jahl (Bodoh)
Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah jahal (Bodoh) pasti Allah tidak Irodat(tidak berkehendak karena bodoh), dan itu mustahil.
Dalil Naqli : Surat Al Baqoroh ayat 231:

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
10.  Hayat (Hidup) Mustahil Maut (Mati)
Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Maut (Mati) pasti Allah tidak Qudrat, Iradat dan tidak ‘Ilmu, dan itu mustahil.
Dalil naqli :  Surat Al Baqoroh   ayat 255:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ  البقرة: 255
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)

11. Sama' (Maha Mendengar) Mustahil Shomam (Tuli)
Dalil ‘Aqli :Allah maha mendengar,apabila Alloh tidak mendengar bagaimana mungkin Dia akan mendengar Doa makhlukNya,Maka Muttahil Alloh tadak mendengar.
Dalil Naqli :    Surat Asy Syuro  ayat 11:

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
12. Bashor (Maha Melihat) Mustahil ‘Amaa (Buta)
Dalil ‘Aqli :   Tidak masuk akal apabila Allah tidak melihat,Bagaiman Alloh akan mengatur Alam semesta beserta isinya apabila Alloh sendiri tidak melihat maka Mustahil ‘Amaa (Buta)
Dalil Naqli :    Surat Asy Syuro ayat 11:

وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
13.  Kalam (Berfirman) lawannya Bukmu (Tidak berfirman/tidak bisa berbicara)
Ini sifat yang tetap ada, yang qadim lagi azali, yang berdiri pada dzat Allah Swt, sebagai contoh adalah Al- Qur’an, ini merupakan perkataannya (kalam) Allah Swt yang abadi sepanjang masa.]
Dalilnya dalam surat An-Nisa ayat 164:

 وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا  النساء: 164
dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung

14. Kaunuhu Qodiron Mutahil ‘Ajizan

    Dalilnya sama dengan dalil sifat Qudrot

15. Kaunuhu Muridan Mustahil Karihan

    Dalilnya sama dengan dali sifat Irodat

16. Kaunuhu‘Aliman Mustahil Jahilan

    Dalilnya sama dengan dalil sifat ‘Ilmu

17. Kaunuhu Hayyan lawannya mayyitan

    Dalilnya sama dengan dalil sifat hayat

18. Kaunuhu Sami'an lawannya Ashomma

    Dalilnya sama dengan sifat Sama’

19. Kaunuhu Bashiron lawannya A’maa

    Dalilnya sama dengan dalil sifat Bashor

20. Kaunuhu Mutakaliman lawannya Abkama