CONTENT MARKETING dan CUSTOMER ENGAGEMENT

 2.1.6    CONTENT MARKETING

Content marketing merupakan pendekatan strategi Pemasaran yang difokuskan pada pembuatan dan pendistribusian konten yang bernilai, relevan dan konsisten.

Menurut Joe Pulizzi (2009), content marketing adalah teknik Pemasaran  untuk menciptakan dan mendistribusikan konten yang relevan dan berharga untuk menarik, memperoleh, dan melibatkan target audience yang jelas dan dipahami dengan tujuan mendorong tindakan pelanggan yang menguntungkan.

Menurut Gunelius (2011), content marketing adalah proses secara tidak langsung dan langsung mempromosikan bisnis atau merek melalui konten teks, video, atau audio yang bernilai tambah baik secara online maupun offline. Hal itu bisa terjadi dalam bentuk long-form (seperti blog, artikel, e-book, dan sebagainya), short-form (seperti update Twitter, update Facebook, gambar, dan sebagainya), atau bentuk percakapan (misalnya, sharing konten melalui Twitter atau berpartisipasi dalam diskusi aktif via komentar blog atau melalui forum online).

Content marketing menurut Handley et al (2010) adalah sesuatu yang diciptakan atau di bagikan oleh individu maupun organisasi untuk menceritakan kisah mereka seperti sebuah percakapan. Content marketing tidak menjual secara terus menerus dan bukan merupakan suatu taktik yang dapat langsung menghasilkan, namun harus menjadi pola pikir yang dipeluk dan didorong.

Melihat ketiga definisi content marketing menurut para ahli, dapat disimpulkan bahwa content marketing adalah sesuatu yang diciptakan atau dibagikan dalam bentuk long-form, short-form dan juga percakapan lainnya yang memiliki nilai dan relevan untuk menarik pelanggan dan mendorong pelangggan untuk bertindak tanpa menjual secara terus menerus.

Content marketing dibuat untuk menghasilkan konten yang berkualitas, unik, signifikan, berharga, dinamis dan lebih relevan dibanding kompetitornya. Menurut Gunelius (2011:56), suatu konten dikatakan bernilai secara general apabila :

1)         dapat menghasilkan minat, melibatkan, tapi juga menginformbakikan dan mendidik pelanggan

2)         mengungkapkan semua nilai yang mengidentifikasi perusahaan dalam hal keunikan, konsistensi, kualitas dan relevansi.

3)         bersikap proaktif, yang mampu berevolusi dari waktu ke waktu.

4)         Sedangkan menuurut Aušra et al (2016), content marketing yang berkualitas memiliki tujuh elemen yaitu :

a.      Relevance, relevansi konten dianggap sebagai kegunaan informbaki untuk konsumen.

b.      Informative, konten dapat memberikan informbaki kepada pelanggan potensial tentang pengetahuan, keterampilan dan proses perusahaan yang digunakan untuk menciptakan produk dan layanan. Konten dan linguistik yang digunakan mempengaruhi proses pengambilan keputusan konsumen

c.      Reliability, kehandalan merupakan salah satu elemen kunci dalam membuat konten berkualitas tinggi. Untuk membaktikan kehandalan, perusahaan harus hati-hati mengevaluasi prosedur pengolahan data dan penggunaan teknikyang tepat. Karena, informbaki yang diberikan oleh perusahaan harus bisa diandalkan dan memadai

d.      Value, pembuatan konten harus diimplementasikan melalui nilai fungsional dan nilai emosional.

e.      Uniqueness, konten yang unik dapat digunakan sebagai alat positioning perusahaan agar menjadi unik.

f.       Emotions, perusahaan harus mengerti konten lebih luas dan harus menempatkan elemen emosional dan hiburan yang menggairahkan pelanggan. karakter emosional (positif atau negatif) lebih menarik bagi pelanggan, daripada konten netral.

g.      Intellegence, konten memiliki kemampuan untuk bisa dibaca oleh manusia dengan manusia dan diproses di mesin atau teknologi.

Gambar 2.3

Organization Management

 

 

 

 

 

 


Sumber : : System Research, 2016

2.1.5    CUSTOMER ENGAGEMENT

Customer engagement adalah tingkat keterlibatan pelanggan secara fisik, kognitif, maupun emosional dalam hubungannya dengan pelayanan yang diberikan sebuah organisasi (Pattersen, 2006).

Definisi lain menyebutkan bahwat customer engagement merupakan salah satu cara pengukuran baru kegiatan Pemasaran  yang berkembang pesat seiring dengan perkembangan online media (Forrester, 2007). Menurut Bielski (2008), melalui customer engagement sebuah merek akan membangun hubungan dengan pelanggannya untuk mengarahkan tingkah laku dan kebiasaan pelanggan agar menjadi loyal.

Broodie (2011) mengatakan bahwa customer engagement dapat menjadi alat untuk menciptakan, membangun, dan meningkatkan customer relationship, yang merupakan strategi yang harus dilakukan untuk meningkatkan dan mempertahankan performa bisnis di mbaka depan di dalam aura persaingan yang ketat (Nugraheni, 2012).

Dalam memanfaatkan customer engagement sebagai alat untuk meningkatkan CRM, maka kita juga membutuhkan alat untuk melihat sejauh mana keberhasilan customer engagement. Seperti disebutkan sebelumnya dalam definisi customer engagement yang disebutkan oleh Pattersen bahwa customer engagement merupakan tingkat keterlibatan pelanggan, maka untuk melihat tingkat customer engagement tersebut, salah satu ukuran yang dapat digunakan adalah tahapan customer engagement yang dikemukakan oleh Dave Evans.

Gambar 2.4

Tahapan Customer Engagement Dave

 

 

Sumber : Skripsi Wulan Rinda Kusuma, 1006665132,          Fisip, Universitas Indonesia, 2014

Tahap customer engagement menurut Dave Evans ada empat, yaitu; consumption, curation, creation, dan collaboration.

a)    Tahap consumption merupakan tahap awal dimana customer hanya mengonsumsi semua informbaki yang diberikan oleh brand.

b)    Tahap curation terjadi ketika customer sudah lebih teliti, dengan menyortir, memilih konten yang sesuai, merespon, dan me-review informbaki yang dianggap penting oleh customer.

c)    Tahap creation, pada tahap ini customer membuat dan menghasilkan konten sendiri yang berhubungan dengan brand, selanjutnya customer meminta dukungan dari pihak lain tentang konten yang ia buat.

d)    Tahap collaboration, terjadi ketika customer telah membangun aktivitas yang solid, misalnya dengan membentuk komunitas dengan sesama customer lain yang menggunakan brand yang sama.