orang ke - , Sudut pandang

 Sudut pandang penceritaan bisa melalui orang pertama (seperti aku, saya, atau kami) serta orang ketiga (seperti ia atau dia).
Sudut pandang orang pertama memamparkan kisah berdasarkan apa yang dilihat, dirasakan, dan dipikirkan oleh tokoh “aku”, “saya”, atau “kami”.
Sudut pandang pertama bisa mengungkapkan isi hati dan pikiran si tokoh semaksimal mungkin. Akan tetapi, dengan menggunakan sudut pandang orang pertama ini, pencerita tidak bisa melukiskan apa yang ada dalam hati atau pikiran karakter lain.
Sementara itu, penceritaan yang menggunakan sudut pandang orang ketiga bisa menggunakan kata ganti “ia” atau “dia”. Pada sudut pandang ini, pencerita bisa melihat semua tindakan tokoh yang dirujuknya, tetapi ia tidak bisa membaca isi pikiran setiap karakter. Ia hanya bisa melukiskan segala hal sebatas apa yang ditangkap indra.
 Sudut pandang orang ketiga bisa juga digunakan pencerita untuk menggambarkan satu karakter tertentu dengan menuturkan apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dipikirkan, atau diinginkan oleh tokoh “ia” yang digambarkannya.

Idiom adalah konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya. Menurut Gorys K
 Sudut pandang orang ketiga bisa juga digunakan pencerita untuk menggambarkan satu karakter tertentu dengan menuturkan apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dipikirkan, atau diinginkan oleh tokoh “ia” yang digambarkannya.

Idiom adalah konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya. Menurut Gorys Keraf, idiom merupakan pola struktural yang menyimpang dari kaidah bahasa umum dan biasanya berbentuk frasa. Sedangkan artinya tidak dapat diterangkan secara logis atau gramatikal dengan bertumpu pada makna kata yang membentuknya.
Contoh  : Senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas (LP, 2007:2).
Aritnya  : ‘semangat yang menyala-nyala dengan hebatnya’

Related Posts :