Mencela Kemasyhuran dan Ketenaran


Kemasyhuran adalah hal yang buruk, kecuali jika itu semata-mata anugerah Allah karena seseorang menyebarkan agama-Nya, bukan karena ia menginginkannya. Yang terbaik adalah tidak terkenal (khumul, low profile).
Sayyidina Ali karramallahu wajhahu wa radhiyallahu anhu mengatakan, “Berlakulah rendah hati, jangan memasyhurkaan diri, dan jangan melambungkan namamu agar disebut-sebut. Belajar, sembunyikan, dan diam, niscaya engkau selamat, membahagiakan orang-orang baik, dan menyirapkan amarah orang-orang jahat.”
Ibrahim bin Adham rahimahullah mengatakan, “Tidaklah dikategorikan tulus kepada Allah, orang yang menyukai ketenaran.”
Ayyub As-Sakhtiyani menyatakan, “Demi Allah. Seorang hamba tidaklah dikategorikan tulus kepada Allah, kecuali jika ia bahagia bilamana kedudukannya tidak diketahui orang.”
Sulaim bin Hanzhalah menceritakan. “Waktu itu kami bersama Ubay bin Ka’ab. Kami berjalan di belakangnya. Tiba-tiba Umar melihat Ubay, lalu memukulnya dengan kayu kecil. Ubay lantas bertanya, Wahai Amirul Mukminin. apa yang engkau lakukan?” Umar menjawab. “Sesungguhnya keadaan seperti ini kehinaan bagi para pengikut, dan ujian bagi orang yang diikuti.”
Hasan Al-Bashri menceritakan. “Suatu ketika Ibnu Mas’ud keluar dari rumahnya. Lalu orang-orang mengikutinya. Ibnu Mas’ud lantas menoleh melihat mereka seraya berkata, Untuk apa kalian mengikutiku? Demi Allah. Sekiranya kalian mengerti apa yang kututup dibalik pintu rumahku, niscaya tak seorang pun di antara kalian mau mengikutiku walaupun cuma dua orang.” Hasan Al-Bashri pernah mengatakan. “Apabila suara derap sandal terdengar di sekitar seseorang (karena banyak yang mengikutinya), sedikit sekali ada orang bodoh yang hatinya tidak terpaut dengan orang itu.”
Pada suatu hari Ayyub As-Sakhtiyani keluar melakukan suatu perjalanan, lalu ada banyak orang mengikutinya. la pun berkata. “Kalaulah bukan karena aku mengetahui bahwa Allah mengetahui ketidaksukaanku pada hal semacam ini (baca: diikuti banyak orang—Penerjemah), niscaya aku khawatir akan mendapat murka Allah azza wazalla”
Ma’mar menceritakan, “Aku pernah mencela Ayyub karena gamisnya panjang. Ayyub pun menjelaskan, ‘Dahulu kala, kemasyhuran seseorang dikarenakan gamisnya panjang. Namun pada saat sekarang, kemasyhuran terletak pada gamis yang pendek.”
Bisyr Al-Hafi mengatakan, “Aku tidak pernah mengenal orang yang ingin terkenal, kecuali agamanya hilang dan aibnya tersingkapkan.” ia pun pernah mengatakan, “Tak akan mendapatkan manisnya akhirat, orang yang ingin tenar di kalangan manusia.”
Semoga rahmat Allah dilimpahkan kepada Bisyr dan mereka semua yang tersebut namanya di atas.

Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz
http://www.alhabibahmadnoveljindan.org/mencela-kemasyhuran-dan-ketenaran/


0 Response to "Mencela Kemasyhuran dan Ketenaran"

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.