Toleransi dan Kedamaian Negeri

Toleransi antarumat beragama di Indonesia sudah berjalan baik dan perlu terus dijaga. Penduduk Indonesia sudah terbiasa dengan perbedaan agama dan keyakinan diantara mereka. Meski harus diakui masih ada kasus-kasus kecil akibat salah paham diantara warga negara. Namun kehidupan beragama di Indonesia sudah mencerminkan toleransi yang tinggi.
Semua agama mengajarkan kedamaian dan hidup rukun dengan sesama warga negara. Tidak ada agama yang menganjurkan pemeluknya untuk saling bermusuhan dan saling menghina umat agama lain. Demikian pula dengan Islam, ajaran Islam penuh dengan pesan-pesan damai dan saling menghargai perbedaan. Kita diajarkan untuk menghormati dan menghargai perbedaan agama dan keyakinan di antara sesama warga negara.
Apabila ada kekerasan yang mengatasnamakan agama, maka kita harus menolaknya. Islam tidak pernah mengajarkan untuk berbuat aniaya dan berbuat kerusakan. Dakwah Islam tidak boleh dilaksanakan dengan kekerasan atau paksaan, tetapi harus dilaksanakan dengan santun, menarik, dan bijaksana. Dakwah seperti inilah yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Kunci keberhasilan dakwah beliau adalah berakhlak mulia kepada semua orang.
Dakwah kepada orang yang bukan Islam juga harus dengan cara damai. Diceritakan dalam sebuah kisah bahwa salah seorang sahabat Ansar mempunyai dua orang anak yang beragama Nasrani. Sahabat tersebut datang kepada Nabi Muhammad saw. menanyakan apakah boleh memaksa kedua anaknya untuk masuk Islam? Rasulullah saw. menjawab dengan mengutip ayat 􀁂􀁍􀀎􀀲􀁖􀁓􀉧􀃁􀁏 bahwa tidak ada paksaan dalam beragama, telah nyata perbedaan antara yang haq dan batil.

Presiden Jerman Puji Kerukunan Beragama Indonesia
Presiden Jerman, Christian Wul memuji kerukunan antarumat beragama yang terjalin di Indonesia, sebagai negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia.
“Indonesia adalah salah satu negara yang berkembang dengan baik, negara dengan mayoritas muslim terbanyak di dunia, namun perspektif demokrasi yang memungkinkan terjadinya kesejahteraan,” ujar Wul dalam kuliah umumnya di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
Wul setuju dengan sistem demokrasi di Indonesia yang tidak menyamaratakan keyakinan setiap orang. Menurutnya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan keyakinannya. Pandangan demokrasi serupa juga diterapkan di Jerman.
“Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia bukanlah negara Islam, sebaliknya Jerman, dengan penduduk Kristen yang banyak juga bukanlah negara Kristen. Islam, dengan jumlah penduduk 4 juta pemeluknya sudah menjadi bagian dari Jerman. Di Jerman, semua orang bisa memilih agama dan bisa melaksanakan praktik-praktik keagamaan seperti layaknya di Indonesia,” jelas Wulf.
Para pemeluk agama yang berbeda, lanjut dia, tidak hanya hidup bersampingan dalam masyarakat, tetapi hidup bersama-sama dalam satu masyarakat. “Satu hal yang membuat saya kagum adalah Indonesia menjadi negara yang memiliki peranan yang sangat penting dalam hal memimpin dan membangun ASEAN,” imbuhnya.
Sumber: www.nu.or.id

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia telah menempatkan diri sebagai contoh bagi bangsa-bangsa lain tentang pelaksanaan toleransi beragama. Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak setiap warga negara untuk melaksanakan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Di samping hak beragama, kita juga punya kewajiban untuk menghargai dan menghormati umat agama lain.

SUMBER : Buku K13 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas ix


0 Response to "Toleransi dan Kedamaian Negeri"

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.