berlatih teater



1. Melatih Kejelasan Ucapan
a. Latihan berbisik: Dua orang berhadapan, membaca naskah dalam jarak dua atau tiga meter, dengan cara berbisik.
b. Latihan mengucapkan kata atau kalimat dengan variasi tempo, cepat dan lambat: “sengseng tengtes sresep brebeeet … maka para tukang sulap mengeluarkan kertas warnawarni dari mulut dowernya yang kebanyakan mengunyah popcorn, pizza, kentucky, humberger di rumah-rumah makan eropa-amerika dan membuat jamur dari air-liurnya pada kertas panjang yang menjulur bagai lidah sungai menuju jalan layang bebas hambatan kemudian melilit bangunan-mangunan mewah disekitar pondok indah cinerebumi serpong damai pantai indah kapuk pluit pulomas sunter hijau kelapa gading permai dan tugu monas …”
2. Melatih Tekanan Ucapan
Tekanan ucapan ada tiga macam; 1). Tekanan Dinamik. 2). Tempo. 3). Tekanan Nada.
a. Tekanan Dinamik
Tekanan Dinamik ialah keras-pelannya ucapan. Gunanya untuk menggambar isi pikiran dan isi perasaan dari kalimat. Contohnya; “Hari minggu saya ke toko buku” (artinya, bukan hari senin atau hari selasa). “Hari minggu saya ke toko buku” (artinya, bukan adik saya atau kakak saya). “Hari minggu saya ke toko buku” (artinya bukan ke toko pakaian atau ke toko makanan).
b. Tekanan Tempo
Tekanan Tempo ialah cepat-lambatnya ucapan. Gunanya sama dengan tekanan dinamik. Untuk menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan dari kalimat. Contohnya:
1) “Ha-ri Ming-gu saya ke toko buku”
2) “Hari Minggu sa-ya ke toko buku”
3) “Hari Minggu saya ke to-ko bu-ku”
c. Tekanan Nada
Merupakan lagu daripada ucapan, contohnya; “Wah, kamu pandai sekali!” atau “Gila, ternyata dia bisa menjawab pertanyaan yang sesulit itu!”
3. Melatih Kerasnya Ucapan
Teknik ucapan pemain teater lebih rumit dibanding dengan tehnik ucapan bagi pemain film dan sinetron. Ucapan pemain teater tidak hanya dituntut jelas dan menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan, tetapi juga harus keras, karena ucapan pemain di atas panggung menempuh jarak yang lebih jauh. Untuk itu kerasnya ucapan harus dilatih. Adapun cara melatihnya bisa dengan berbagai macam cara. Diantaranya;
a. Mengucapkan kata atau kalimat tertentu dalam jarak 10 meter atau 20 meter. Dalam latihan ini, yang harus selalu dipertanyakan ialah: a). Sudah jelaskah? b). Sudahkah menggambarkan isi pikiran dan isi perasaan? c). dan pertanyaan yang terpenting, sudah wajarkah?
b. Latihan mengguman. Gumaman harus stabil dan konstan. Kemudian gunakan imajinasi dengan mengirim gumaman ke cakrawala. Bayangkan “gumaman” yang dikeluarkan lenyap di cakrawala.
Ketiga teknik ucapan di atas (kejelasan ucapan, tekanan ucapan dan kerasnya ucapan), pada dasarnya adalah satu kesatuan yang utuh ketika seseorang berbicara atau berdialog. Ketiganya saling mengisi dan melengkapi. Sebelum melatih ketiga tehnik ucapan di atas, sebaiknya dilakukan pemanasan terlebih dahulu. Misalnya, dengan mengendurkan urat-urat pembentuk suara, urat-urat leher, dan membuat rileks seluruh anggota tubuh.

4. Latihan kepala dan leher
a. Jatuhkan kepala ke depan dengan seluruh bobotnya dan ayunkan dari sisi ke sisi.
b. Jatuhkan kepala ke kanan, ayunkan ke arah kiri melalui bagian depan, ayunkan ke arah kanan melalui punggung.
c. Lalukan latihan yang sama untuk “bahu”.
d. Untuk tangan dan kaki, gunakan variasi rentangan.

5. Latihan tubuh bagian atas
Berdiri dengan kedua kaki sedikit direnggangkan dengan jarak antara 60 sentimeter. Tekukkan lutut sedikit saja. Benamkan seluruh tubuh bagian atas ke depan di antara kedua kaki.
Biarkan tubuh bagian atas bergantung seperti ini dan berjuntaijuntai beberapa saat. Tegakkan kembali seluruh tubuh melalui gerakan ruas demi ruas, sehingga kepalalah yang paling akhir mencapai ketinggiannya dan seluruh tulang punggung melurus. Dengan cara yang sama, coba membongkokkan tubuh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang.

6. Latihan pinggul, lutut dan kaki
a. Berdiri tegak dan rapatkan kaki. Turunkan badan dengan menekuk lutut dan kembali tegak.
b. Berdiri tegak dengan satu kaki, kaki yang lain julurkan ke depan. Turunkan badan dengan menekuk lutut dan kembali tegak. Ganti dengan kaki yang lain.
c. Putar lutut ke kiri dan ke kanan. Buat berbagai variasi dengan konsentrasi pada lutut.

7. Seluruh batang tubuh
a. Berdiri dan angkat tangan kita ke atas setinggi-tingginya, regangkan diri bagaikan sedang menguap keras merasuki seluruh tubuh. Ketika kita mengendurkan regangan tubuh berdesahlah dan lemaskan diri sehingga secara lemah lunglai mendarat di lantai. Jangan mendadak, tapi biarkanlah bobot tubuh kita sedikit demi sedikit luruh ke bawah/ke lantai.
b. Pantulkan diri dan goyangkan lengan-lengan, tangan-tangan, lutut, kaki dan telapak kaki ketika berada di udara. Keluarkan teriakan singkat ketika kita memantul.

8. Berjalan
a. Mengkakukan tulang punggung dan rasakan betapa langkah yang satu terpisah dari langkah lainnya.
b. Mendorong leher ke depan.
c. Mengangkat dagu.
d. Menunduk/menjatuhkan kepala ke depan.
e. Mengangkat bahu tinggi-tinggi.
f. Menarik bahu ke belakang.
g. Menjatuhkan atau membungkukkan bahu ke depan.
h. Sambil menggerak-gerakkan tangan pada siku-sikunya.
i. Memantul-mantulkan diri dari kaki ke kaki.
j. Dengan membengkokkan telapak kaki ke atas dan bertumpu pada tumit-tumit kaki.
k. Mencondongkan seluruh tubuh ke belakang dan perhatikan betapa ini meninggalkan berat bobot tubuh di belakang ketika kita melangkah maju.

9. Berlari
Berdiri dan tarik napas. Hembuskan napas ke depan sambil berlari, mengeluarkan suara “haaaa” sepanjang kemampuan napas yang dikeluarkan. Kemudian berbalik ke tempat ketika berhenti, lalu tarik napas dan ulangi gerak lari yang sama.
Gerakan dan suara akan membentuk ungkapan atau ucapan yang selaras. Tarik napas dalam-dalam, ketika mengeluarkan napas larilah mundur sambil membungkukkan tubuh bagian atas ke depan.

10. Melompat
a. Berlari menuju ke suatu lompatan. Rasakan betapa sifat memantulnya berat tubuh mengangkat kita.
b. Ayunkan kedua kaki sebebas-bebasnya dan lompatlah lebih tinggi lagi.

Seluruh rangkaian latihan olah tubuh ini dilakukan dengan menggunakan imajinasi (pikir dan rasa), dan bisa diberi variasi dengan membunyikan musik instrumentalia.





0 Response to "berlatih teater"

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.