Berakhlak dn beribadah belum tentu bertasawuf, Tasawuf adalah ilmu hati

Sedikit Cuplikan Pidato Kiai Said Aqil Siraj di pengajian Hikam Lirboyo
*****
Hakikat adalah pondasi, syariat adalah genteng, tembok adalah akhlaqul karimah. Orang berakhlaq baik belum tentu bertasawuf. Kenceng ibadah belum tentu hatinya bertasawuf. Tasawuf adalah ilmu hati, kondisinya dan makamnya/
kedudukan di depan Allah dekat apa jauh.
Hati terbagi menjadi empat, dan yang terluar adalah:
1. Bashirah, mana baik mana buruk, diteruskan,
2. Dhamir, moral, akan mengeluarkan dua kata: Kerjakan atau tidak. Dan ini terbagi menjadi tiga:
a. Moral Ijtima'i/lingkungan, mis: Kalau di depan santri kenceng, kalau tidak ya tidak.
b. Moral Qanuni/legal formal, mis: Saya mau kerja kalau ada gajinya dll.
c. Moral Diniy/agama, seperti Kanjeng Nabi Saw., baik ada uang atau tidak, ada amplop atau tidak tetep pidato.
Cara mengetahui dhamir ini baik atau buruk "istafti qolbak", tenang baik.
3. Fuad/hakim, tidak pernah bohong, hati murni, walaupun ngomong tidak mencuri tapi hati tetap tidak bisa bohong. Dan kelak yang ditanyai di akhirat adalah fuad. Kalau pertama diingkari, fuad lama-kelamaan akan lemah bersuara dan akan lantang pada kelak hari kiamat.
(Selingan) Kitab al-Asrar dibawa oleh Syaikh Wasil dan diterjemah oleh Jayabaya menjadi Serat Jayabaya.
4. Lathifah/shoftware, bisa mengakses lauhil mahfudz kalau diizini Allah, makanya Syaikh Athaillah dawuh, "Gusti Allah tidak mahjub/
terhalang-halangi. Tapi sampeyan yang terhalang-halangi". Seperti surat teguran Sayyidina Umar ke Sungai Nil.
(Tambahan) Orang pertama yang mendevinisikan Tasawuf adalah Syaikh Ma'ruf al-Karkhi, "Mencari kebenaran dan berpaling dari kepalsuan". Diteruskan Syaikh Dzun Nun, "Sufi adalah orang yang mendahulkan Allah mengalahkan yang lain". Lalu, Syaikh Abu Yazid al-Basthami, "Sifat Allah dipakaikan ke panjenengan, itu baru sufi".
Puncak sufi adalah Imam Junaid, "Sufi adalah orang yg tidak pernah ketinggalan zaman (Ibnu Zamanihi), warnanya seperti air, ditempatkan di mana saja tetap mengikuti tempatnya". Artinya orang sufi adalah orang yang mampu mengikuti semua zaman.
(Ikhtitam) Semoga pengajian tasawuf tetap ada, karena itulah yang bisa menanggulangi Wahabi. Setiap orang pasti punya fase, muda biasanya nakal seperti saya dulu (disambut gerrr oleh peserta), tapi kalau sudah termakan usia akan berubah.
Orang yang jadi paling pinter, paling kuat dll dia akan kesepian, kalau spiritualnya tidak ada, akan lelah menjalani kehidupan, bahkan bunuh diri. Beda kalau sufi, semakin ia tinggi maka semakin dekat dengan Allah dan tidak kesepian.
(Kisah penutup) Ada seorang pemuda mukul batu seratus kali tapi tidak pecah. Lalu bertemu kiai ndeso yang sudah sangat sepuh, ia berkata, "Coba saya yang pukul."
"Lho emang bisa Kiai?"
"Coba saja..."
Bruaaaakkkkk... Lima kali pukulan ternyata batu itu pecah. Sang pemuda menjadi sangat heran, "Lhoooo,,,, njenengan ternyata sakti!!!"
"Yaaa enggak!!! Sebab batu itu pecahnya pada pukulan ke seratus lima, saya cuma nambah lima saja."
Intinya: Jangan pernah putus asa, seberat apapun rintangan, kita jangan putus asa dengan rahmat Allah Ta'ala.
******
Itulah sedikit cuplikan dawuh Mbah Yai Said Aqil, tanpa saya tampilkan Qur'an, Hadist, Maqolah Ulama yang keluar dari bibir Beliau dengan luar biasa yang menunjukkan betapa men-samuderanya ilmu Beliau. (Dari Kiai Robert Azmi al-Nganjuki).



0 Response to "Berakhlak dn beribadah belum tentu bertasawuf, Tasawuf adalah ilmu hati"

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.