Resiko ustad/ustadzah

👉 Hati-hati Ketika Berceramah
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Hati-hati jika berceramah, agar tidak mengalami kejadian seperti Ustadzah berikut ini. Semoga kita tidak mengalaminya.

Dalam sebuah ceramah seorang Ustadzah membagikan ilmunya.

Ustadzah berbicara di hadapan ibu-ibu Majlis Ta’lim…

“Dari pada suami ibu-ibu terjerumus ke dalam dosa, lebih baik ijinkan mereka untuk menikah lagi. Mungkin ini berat, tetapi pahala yang akan Ibu dapatkan atas kerelaan ini sangatlah besar.”

Salah satu ibu-ibu Jamaah mengacungkan jari ingin bertanya.

“Silahkan ibu”, kata Ustadzah.

“Terima kasih, Ustadzah”, ibu itu memulai bicara.

“Hari ini hati saya jadi sangat senang sekali dan mulai tenang setelah mendengar apa yang barusan Ustadzah sampaikan…”

“Emangnya kenapa Ibu…??”, tanya Ustadzah.

“Begini ustadzah dari dulu saya bingung bagaimana caranya memberitahu ke Ustadzah.”

“Syukurlah kalau emang apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat buat Ibu”, sahut Ustadzah.

“Tapi setelah mendengar ceramah Ustadzah barusan, saya mulai bisa memberanikan diri untuk memberitahu Ustadzah… Bahwaa… eehmmm… sebelumnya saya mohon maaf kalau sampai sekarang belum bisa memberitahu Ustadzah.”

“Beritahu saya aja… karena kebahagiaan Ibu, Insya Allah jadi kebahagiaan saya juga”, sahut Ustadzah.

“Baiklah Ustadzah, bahwa sebenarnya dalam 2 tahun ini, saya sudah menjadi istri kedua dari Suami Ustadzah”.

Mendengar cerita Ibu itu, Ustadzah seketika pingsan.

Ternyata Ustadzah sendiri belum siap menerima kenyataan kalau hal itu menimpa dirinya.

Tidak lama kemudian Ustadzah siuman, terus dikasih minum oleh madunya sambil diajak istighfar…

Setelah istighfar dan tenang, akhirnya Ustadzah berkata kepada madunya, “Maafkan saya adinda… ternyata hati ini tidak sekuat batu, tapi sekarang saya sudah faham dan harus ikhlas menerimanya.”

Sambil berpelukan, Ustadzah berkata, “Kita harus menjadi istri-istri yang sholehah.”

Kemudian Ustadzah berdiri menggandeng madunya dan melanjutkan ceramahnya dengan mengatakan ini salah satu contoh istri-istri yang sabar lillahi ta’ala…

Sontak para jama’ah terharu, salah seorang ibu muda yang cantik menangis terseguk kemudian berdiri mengacungkan tangan.

“Ya silahkan Ibu.., apa yg mau ditanyakan…?”, tanya Ustadzah.

Si ibu ini dengan air mata bercucuran berkata, “Ya ustadzah, saya tidak tahu apakah saya ini menangis sedih atau bahagia melihat Ustadzah dan madunya kompak… Saya tidak tahu apakah saya bisa kuat karena ternyata saya adalah istri ketiganya suami Ustadzah…”

Tiba-tiba gubrak Ustadzah pingsan lagi disusul madunya…

Tidak lama kemudian Ustadzah dan madunya siuman, terus dikasih minum sambil diajak istighfar.

Setelah istighfar dan tenang, akhirnya Ustadzah berkata, “Maafkan saya adinda-adinda.., ternyata hati ini tidak sekuat batu.., tapi sekarang saya sudah faham dan harus ikhlas menerimanya.”

Setelah merasa tenang dan kuat, kemudian Ustadzah berdiri menggandeng madu-madunya dan melanjutkan ceramahnya dengan mengatakan ini salah satu contoh istri-istri yang sabar lillahi ta’ala…

Sontak para jama’ah terharu… salah seorang ibu muda yang cantik kemudian berdiri mengacungkan tangan.

Tiba-tiba… gubraaak Ustadzah pingsan lagi, padahal Ibu itu belum bertanya.

Acara tetap dilanjutkan, salah seorang panitia bertanya, “Ya silakan Ibu, apa yang mau ditanyakan.., barangkali saya bisa menjawab.”

Ibu itu sambil menahan sesuatu berkata, “Maaf, saya hanya mau tanya toiletnya sebelah mana ya, saya sudah kebelet dari tadi…!!!” 😥😭😂😄🙏